Kukar Mulai Dikepung Kebakaran Lahan, 14 Kecamatan Terdampak di Tengah Kemarau

img

Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi. (Kriz)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Asap dan titik api mulai menjadi perhatian di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara (Kukar) saat musim kemarau memasuki bulan Agustus. Dari 20 kecamatan yang ada, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) telah terjadi di 14 kecamatan, sementara kemarau diperkirakan masih menuju puncaknya hingga Oktober.

 

Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, mengatakan sebaran karhutla tersebut diketahui dari laporan yang diterima BPBD serta pemantauan bersama sejumlah instansi terkait.

 

“Kalau kita lihat dari perbandingan tahun-tahun sebelumnya, memang pada awal Agustus ini sudah mulai menuju puncak musim kemarau,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya pada Rabu (12/8/2026).

 

Berdasarkan prediksi BMKG, kondisi kemarau diperkirakan berlangsung sampai sekitar Oktober. Setelah itu, kondisi mulai berangsur menurun pada November dan Desember.

 

Dari 14 kecamatan yang telah mengalami karhutla, empat wilayah masuk kategori intensitas tinggi, yakni Muara Badak, Sanga-Sanga, Muara Jawa dan Samboja.

 

Enam kecamatan lainnya berada pada kategori intensitas sedang, meliputi Marangkayu, Loa Janan, Loa Kulu, Tenggarong Seberang, Samboja Barat dan Tenggarong.

 

Sedangkan empat kecamatan yang baru terpantau mengalami kejadian karhutla adalah Muara Kaman, Muara Muntai, Kenohan dan Kota Bangun.

 

Laporan tersebut dihimpun BPBD dari berbagai unsur, mulai pemadam kebakaran, perangkat daerah, kecamatan, KPHP, pemerintah provinsi, hingga camat dan kapolsek.

 

Ia mengatakan kondisi lahan yang semakin kering membuat api lebih mudah berkembang. Terlebih, Kukar telah mengalami sekitar 15 hari tanpa hujan yang signifikan.

 

“Rata-rata ada aktivitas pembukaan lahan, kemudian membakar sampah sembarangan. Selain itu, faktor alam juga bisa menjadi pemicu, kondisi sekarang sudah cukup kering karena sudah sekitar 15 hari tidak turun hujan secara signifikan,” jelasnya.

 

Selain aktivitas manusia, angin juga dapat mempercepat penyebaran api. Bara dari pembakaran yang semula terkendali dapat berpindah ke area lain dan memicu kebakaran baru.

 

“Untuk kondisi seperti sekarang, kami mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah. Kalaupun memang harus dilakukan, harus benar-benar diawasi dan dipastikan apinya sudah padam sebelum ditinggalkan,” tegasnya.

 

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian BPBD berada di Desa Kupang Baru, Kecamatan Muara Kaman.

 

Titik tersebut terdeteksi melalui pemantauan pusat dan membutuhkan penanganan bersama karena akses menuju lokasi cukup jauh.

 

Tim dari Kementerian Kehutanan bersama TNI-Polri yang berada di wilayah kecamatan disiapkan menuju lokasi tersebut. BPBD juga meminta dukungan perusahaan untuk membantu pengerahan personel.

 

“Dari Muara Kaman, perjalanan menuju titik lokasi diperkirakan sekitar tiga jam sampai lokasi terakhir yang bisa dilalui kendaraan. Setelah itu masih dilanjutkan menuju titik kejadian,” ujarnya.

 

Sanga-Sanga juga menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena beberapa kali dilaporkan mengalami kebakaran.

 

Menghadapi potensi peningkatan kejadian saat puncak kemarau, BPBD Kukar mengandalkan kerja sama lintas daerah.

 

Ketika beberapa kejadian muncul secara bersamaan dan armada tidak mencukupi, bantuan dapat dikoordinasikan dari daerah lain.

 

BPBD Kukar memiliki kerja sama dengan Pemerintah Kota Samarinda dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk mendukung pengerahan armada maupun personel.

 

“Kami bukan Superman, tetapi kami adalah super tim. Jadi ketika ada kejadian di beberapa wilayah, kami melakukan sinergi dengan daerah lain. Kalau armada kami terbatas, kami bisa meminta bantuan armada dari daerah lain untuk bersama-sama melakukan penanganan,” pungkasnya.

 

Sementara itu, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar mencatat 33 kejadian kebakaran lahan sepanjang Juli 2026.

 

Kepala Disdamkarmatan Kukar, Fida Hurasani, mengatakan Muara Jawa menjadi wilayah dengan penanganan terbanyak, yakni 11 kejadian, selanjutnya Muara Badak dengan tujuh kejadian dan Samboja lima kejadian.

“Sepanjang Juli kemarin ada 33 kejadian kebakaran lahan. Muara Jawa menjadi yang paling banyak penanganannya, yakni 11 kali. Disusul Muara Badak 7 kali dan Samboja 5 kali penanganan,” tutupnya. (Kriz)